Sabtu, 28 Januari 2012

Kebudayaan dan Pertunjukan Lesung Gilo di Kerinci


Kebudayaan dan Pertunjukan Lesung Gilo di Kerinci



Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kerinci, Jambi, menjadwalkan pertunjukan seni khas Kerinci “Lesung Gilo” pada  panggung Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci (FMPDK).

“Lesung Gilo pertunjukan khas dari desa Hiang Kecamatan Sitinjau Laut akan turut dipertunjukkan kepada pengunjung festival danau Kerinci, setelah cukup lama pertunjukan rakyat ini tidak dimainkan masyarakat,” kata Sekretaris Disbudpar Amri Swarta, di Kerinci,

Permaianan serupa, tambahnya, sebenarnya telah berkembang dengan nama atau sebutan berbeda-beda ke seantero kabupaten Kerinci dan sekitarnya, bahkan penyebarannya sampai ke kawasan timur Provinsi Jambi yakni kabupaten Muaro Jambi.

Selain Lesung Gilo, sebelumnya tradisi Niti Mahligai yang telah diolah menjadi seni pertunjukan tari juga telah mendapat tempat di mata publik nasional.


Beberapa tradisi ritual purba lainnya seperti tradisi Debus Kerinci yang disebut Marcok, dan Reog Kerinci yang disebut Basambai atau Tulak Bla, kini juga terus dikembangkan untuk diangkat menjadi sajian kepariwisataan yang menarik, dukungan dari semua pihak sangat dharapkan terutama dari tokoh-tokoh agama.

Suku Kerinci


Suku Kerinci

Suku Kerinci sebagaimana juga halnya dengan suku-suku lain di Sumatera termasuk ras Mongoloid Selatan berbahasa Austronesia. Berdasarkan bahasa dan adat istiadat suku Kerinci termasuk dalam kategori Melayu dan paling dekat dengan Minangkabau dan Melayu Jambi. Sebagian besar suku Kerinci menggunakan bahasa Kerinci, yang memiliki beragam dialek, yang bisa berbeda cukup jauh antarsatu tempat dengan tempat lainnya di dalam wilayah Kabupaten Kerinci. Untuk berbicara dengan pendatang biasanya digunakan bahasa Minangkabau atau bahasa Indonesia (yang masih dikenal dengan sebutan Melayu Tinggi).

Sebagian penulis, seperti Van Vollenhoven, memasukkan Kerinci ke dalam wilayah adat (adatrechtskring) Sumatera Selatan, sedangkan yang lainnya menganggap Kerinci sebagai wilayah rantau Minangkabau.

Suku Kerinci merupakan masyarakat matrilineal. Sebagaimana diketahui dari Naskah Tanjung Tanah, naskah Melayu tertua yang ditemukan di Kerinci, pada abad ke-14 Kerinci menjadi bagian dari kerajaan Malayu dengan Dharmasraya sebagai ibu kota. Setelah Adityawarman menjadi maharaja, ibu kota dipindahkan ke Saruaso dekat Pagaruyung di Tanah Datar.


Sebagian besar suku Kerinci menggunakan bahasa Kerinci, yang memiliki beragam dialek, yang bisa berbeda cukup jauh antarsatu tempat dengan tempat lainnya di dalam wilayah Kabupaten Kerinci. Untuk berbicara dengan pendatang, biasanya digunakan bahasa Minangkabau atau bahasa Indonesia (yang masih dikenal dengan sebutan Melayu Tinggi)


http://jambitourism.co.id/kerinci-sekepal-tanah-surga/

Rumah Tradisional Umu Lahoa

Rumah Tradisional Umu Lahoa

Rumah  tradisional khas Kota Sungai Penuh, yakni Umu Lahoa. Adalah rumah panggung yang bentuknya memanjang. Rumah ini dibuat panggung, karena dahulu daerah Sumatra masih banyak binatang buas dan liar, sehingga, untuk keamanan penghuni rumah, dibuatlah rumah ini berbentuk panggung.
Kemudian, sejalan dengan waktu, setelah mulai berkurangnya binatang – binatang buas dan liar, di bawah rumah ini dimanfaatkan sebagai kandang / tempat menyimpan hewan – hewan ternak, dan dapat juga digunakan untuk menyimpan beras.
Ciri  khas rumah ini terdapat pada pintu masuk. Rumah yang bentuknya panjang ini, hanya memiliki satu pintu masuk. Namun, di dalamnya menampung beberapa kepala keluarga. Sehingga, keadaan antar tetangga, dapat langsung berkomunikasi di atas / dalam rumah, tidak perlu turun. Ada juga yang khas dari rumah ini, pintu yang begitu pendek, atap yang tidak begitu jauh jaraknya dengan kepala kita apabila kita berdiri di dalamnya. Dan jendela rumah ini begitu unik, dengan ukuran yang kecil. Seluruh rumah ini berbahan dasar kayu yang kuat, sehingga umur dari rumah ini bisa berpuluh – puluh tahun.
Rumah ini terdapat ukiran – ukiran khas Sungai Penuh, dan warna khas yang menunjukkan cirinya yaitu merah, hitam, putih, dan biru. Serta warna kuning dan hijau, menandakan masuknya peradaban Islam.
http://gothadventurer.wordpress.com/2011/04/23/kota-sungai-penuh-dan-kabupaten-kerinci-jambi/

Perkembangan Teknologi di indonesia


Perkembangan Teknologi di indonesia


Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global.
            Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi teknologi informasi ini adalah mendapatkan informasi untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan, hobi, rekreasi, dan rohani. Kemudian untuk profesi seperti sains, teknologi, perdagangan, berita bisnis, dan asosiasi profesi. Sarana kerjasama antara pribadi atau kelompok yang satu dengan pribadi atau kelompok yang lainnya tanpa mengenal batas jarak dan waktu, negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat bertukar pikiran.
            Perkembangan Teknologi Informasi memacu suatu cara baru dalam kehidupan, dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir, kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik. Dan sekarang ini sedang semarak dengan berbagai huruf yang dimulai dengan awalan e
seperti e-commerce, e-government, e-education, e-library, e-journal, e-medicine, e-laboratory, e-biodiversitiy, dan yang lainnya lagi yang berbasis elektronika.


Evolusi Ekonomi Global
            Sampai dua ratus tahun yang lalu ekonomi dunia bersifat agraris dimana salah satu ciri utamanya adalah tanah merupakan faktor produksi yang paling dominan. Sesudah terjadi revolusi industri, dengan ditemukannya mesin uap, ekonomi global ber-evolusi ke arah ekonomi industri dengan ciri utamanya adalah modal sebagai faktor produksi yang paling penting. Menjelang peralihan abad sekarang inl, cenderung manusia menduduki tempat sentral dalam proses produksi, karena tahap ekonomi yang sedang kita masuki ini berdasar pada pengetahuan (knowledge based) dan berfokus pada informasi (information focused). Dalam hal ini telekomunikasi dan informatika memegang peranan sebagai teknologi kunci (enabler technology).
Kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi begitu pesat, sehingga memungkinkan diterapkannya cara-cara baru yang lebih efisien untuk produksi, distribusi dan konsumsi barang dan jasa. Proses inilah yang membawa manusia ke dalam Masyarakat atau Ekonomi Informasi. Masyarakat baru ini juga sering disebut sebagai masyarakat pasca industri.
            Apapun namanya, dalam era informasi, jarak fisik atau jarak geografis tidak lagi menjadi faktor dalam hubungan antar manusia atau antar lembaga usaha, sehingga jagad ini menjadi suatu dusun semesta atau “Global village?. Sehingga sering kita dengar istilah “jarak sudah mati” atau “distance is dead” makin lama makin nyata kebenarannya.

http://rizky007.wordpress.com/2008/04/15/perkembangan-teknologi-di-indonesia/

Proses Pendidikan

Proses Pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Pendidikan biasanya berawal saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran.

Anggota keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam, sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka, walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan secara tidak resmi.

Fungsi laten lembaga pendidikan adalah sebagai berikut.

  • Mengurangi pengendalian orang tua. Melalui pendidikan, sekolah orang tua melimpahkan tugas dan wewenangnya dalam mendidik anak kepada sekolah.
  • Menyediakan sarana untuk pembangkangan. Sekolah memiliki potensi untuk menanamkan nilai pembangkangan di masyarakat. Hal ini tercermin dengan adanya perbedaan pandangan antara sekolah dan masyarakat tentang sesuatu hal, misalnya pendidikan seks dan sikap terbuka.
  • Mempertahankan sistem kelas sosial. Pendidikan sekolah diharapkan dapat mensosialisasikan kepada para anak didiknya untuk menerima perbedaan prestise, privilese, dan status yang ada dalam masyarakat. Sekolah juga diharapkan menjadi saluran mobilitas siswa ke status sosial yang lebih tinggi atau paling tidak sesuai dengan status orang tuanya.
  • Memperpanjang masa remaja. Pendidikan sekolah dapat pula memperlambat masa dewasa seseorang karena siswa masih tergantung secara ekonomi pada orang tuanya.

http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan

Mesjid Agung Pondok Tinggi

Mesjid Agung Pondok Tinggi


Masjid Agung Pondok tinggi merupakan salah satu masjid tertua di Kerinci dan Kota Otonom Sungaipenuh. Masjid yang dibangun pada 1874 M itu merupakan saksi nyata penyebaran Islam ke Kerinci.

MASJID Agung Pondok Tinggi terletak di Dusun Pondok Tinggi, Kecamatan Sungaipenuh, Kota otonom Sungaipenuh. Masjid kuno itu  memiliki arsitektur khas sehingga punya kelebihan dan daya tarik arsitektur tersendiri dibanding masjid lainnya.

Konon Masjid Agung Pondok Tinggi itu dibangun secara bergotong-royong oleh warga Dusun Pondok Tinggi, Kerinci, pada 1874 M. Menurut masyarakat setempat, pembangunan dimulai pada Rabu, 1 Juni 1874, dan selesai pada 1902.

Terkait rancangan masjid, warga dan panitia pelaksana memilih rancangan (desain) M Tiru dari daerah Mandaro. “Untuk mengerjakan rancangan tersebut, dipilih 12 tukang bangunan yang dianggap memiliki keahlian mumpuni.

Cerita yang berkembang di masyarakat juga menyebutkan, pembangunan masjid itu diawali dengan pesta keramaian selama tujuh hari tujuh malam dengan menyembelih 12 kerbau. Selain dihadiri seluruh warga dusun, pesta keramaian juga dihadiri seorang pangeran pemangku dari Jambi.


Masjid Agung merupakan bukti kecerdasan masyarakat lokal mendirikan sebuah bangunan. Proses pembangunan masjid juga menunjukkan kultur komunal yang masih kuat berakar pada masyarakat Kerinci saat itu.
http://www.jambi-independent.co.id/jio/index.php?option=com_content&view=article&id=3308:melihat-sejarah-masjid-agung-pondok-tinggi-bagian-1&catid=2:jambibarat&Itemid=4

Makanan Minuman Khas dan Tradisional kerinci


Makanan Minuman Khas dan Tradisional

Berdasarkan hasil wawancara mengenai makanan minuman khas dan tradisional Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci, didapatkan hasil, yaitu : Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci, merupakan wilayah yang berdampingan dimana keberadaan keduanya tidak dapat dipisahkan. Hingga, masih banyak beberapa persamaan diantara keduanya. Contohnya, beberapa makanan dan  minuman yang khas dan tradisional di Kota Sungai Penuh dan Kab. Kerinci.
Untuk jenis makanan, yang khas yakni dendeng batokok. Dendeng batokok merupakan daging sapi yang telah dibuat pipih sehingga daging sapi tidak terlalu keras dan mudah dimakan, kemudian memasaknya dengan cara dibakar bersama dengan bumbu yang telah disiapkan. Dendeng batokok ini begitu khas disajikan dengan sambalnya, yaitu sambal kecap yang terdiri dari beberapa irisan cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah. Wangi asap dari pembakaran daging ini begitu khas dan menggiurkan, sehingga menghilangkan bau daging yang terkadang membuat orang enggan mengkonsumsi daging sapi.
Tidak hanya dendeng batokok, tapi juga daerah ini ada dodol kentang. Dodol kentang berasal dari bahan dasar kentang, dan diciptakan berbagai rasa, mulai dari rasa pandan, gula aren, hingga rasa durian. Dan yang paling khas di Kota Sungai Penuh dan Kerinci, yaitu minuman yang memiliki banyak khasiat, Sirup Kayu Manis. Sirup ini, berbahan dasar asli kayu manis, yang kemudian diolah menjadi sirup. Penyajian sirup kayu manis ini, biasanya disajikan bersama dengan teh hangat, yang kemudian disatukan dan diaduk. Setelah meminum sirup kayu manis ini, tenggorokan dan perut terasa begitu hangat.
Bukan hanya rasa yang menggiurkan, namun khasiat dari sirup ini begitu banyak, diantaranya :
  1. Menghangatkan badan
  2. Mencegah pegal linu
  3. Mencegah reumatik
  4. Melancarkan aliran darah
  5. Mencegah masuk angin
  6. Dan mengembalikan kondisi tubuh
Daerah penghasil sirup kayu manis yang paling terkenal yaitu di daerah Siulak Deras Mudik, Gunung Kerinci.
http://gothadventurer.wordpress.com/2011/04/23/kota-sungai-penuh-dan-kabupaten-kerinci-jambi/

tari iyo-iyo


TARI IYO-IYO

            Tarian ini dilakukan ketika kenduri pusaka/waktu selesai panen dan bersifat sakral, tepatnya dilakukan setelah pengangkatan gelar adat kepada anak jantan (pria). Tarian ini merupakan tarian massal yang dilaksanakan pada saat Kenduri Sko (Pusaka) pengangkatan/ pemberian gelar adat (Rio, Depati, Mangku, Datuk, dst) kepada anak laki-laki yang dipilih oleh anak Batino dari suatu suku. Tarian ini dilakukan oleh anak batino (perempuan), diselingi dengan pencak silat dan menggunakan pedang oleh anak jantan. Tarian ini bertujuan untuk mengungkapkan rasa kegembiraan dan rasa bangga atas pengangkatan pemimpin adat. Puncak dari acara ini adalah saat dibacakan tambo (silsilah keturunan) secara berirama.
situs gambar: http://2.bp.blogspot.com/-J53LIf0MDF0/TxmHBeHZVmI/AAAAAAAAAYM/r6zcL0AXW0M/s400/yo.jpeg

Tari Ntak Kudo

Tari Ntak Kudo

Tarian ini berasal dari Hamparan Besar Tanah Rawang yang pada zaman dahulu hanya ditampilkan pada acara-acara kebesaran tertentu saja dan berbau mistis. Gerak langkahnya didasari dengan gerak langkah sifat yang diiringi oleh musik perkusi (gendang), botol, serta benda lainnya yang dipukul yang menghasilkan bunyi yang bertalu-talu dengan alunan musik yang berirama gembira, bertujuan untuk menghidupkan gerakan tari yang sedang dilakukan sehingga lebih asyik.
Daya tarik ini mampu memikat penonton untuk ikut serta menari dan berdendang. Tari ini digelar hampir di setiap perayaan yang ada di Kota Sungai Penuh.Ntak Kudo mulai berkembang diperkirakan pada tahun 1970, sebelumnya tari Ntak Kudo ditarikan oleh anak-anak yang belajar sifat tradisional di hamparan rawang bagian tengah dengan nama Tari Sbuk Tanguo (sapu tangan) dengan gerakan khusus pencak silat.
situs gambar : http://www.qcritkarpol.com/wp-content/uploads/2011/09/Tari-Rantak-Kudo.jpg

Tari Taouh


TARI TAOUH


            Tari ini merupakan tarian khas Lekuk 50 Tumbi Lempur, diselenggarakan apabila ada perayaan-perayaan, kenduri sko, dan penyambutan tamu. Tari ini dibawakan laki-laki dan perempuan (berpasang-pasangan), biasanya dilakukan sambil berdiri. Alat musik yang mengiringi adalah redab, gong, dan nyanyian klasik yang disebut mantau. Mantau mengisahkan kehidupan masyarakat desa, percintaan, adat istiadat, dan lain-lain. Para penari memakai pakaian adat Lempur berwarna hitam atau coklat dan tutup kepala yang diberi hiasan perak. Biasanya tarian ini dilakukan di lapangan terbuka maupun dalam ruangan. Pelaksanaannya ditentukan berdasarkan waktu, kecuali saat puncak kenduri adat, dilakukan selama satu malam satu hari.
 
 
 

Zike


ZIKE


            Zike berasal dari kata zikir, yaitu nyanyian yang dilakukan waktu mengadakan gotong rayong, misalnya pada saat gotong royong membersihkan bandar sawah, membangun mesjid, dan lain sebagainya. Zike diadakan untuk memberi semangat bagi orang yang sedang bekerja agar tidak cepat lelah.
            Kesenian ini perpaduan tiga buah seni yai seni vokal, seni gerak (tari) dan seni musik. Seni vokal (nyanyian), yang dinyanyikan merupak puji-pujian terhadap Yang Khalik Pencipta Ala Semesta (Allah SWT) dan rasul-rasulnya.

Kerajinan Tangan Kerinci

Kerajinan Tangan

              Berdasarkan hasil wawancara mengenai kerajinan tangan setempat, didapatkan hasil bahwa salah satu jenis souvenir yang dihasilkan oleh Kota Sungai Penuh, Kerinci adalah kerajinan rotan, dimana pusat tempat pembuatan kerajinan rotan ini berlokasi di Desa Sungai Tutung, Desa Air Hangat Kerinci.
              Lokasi pembuatannya tidak memiliki pabrik sendiri melainkan proses pembuatannya dilakukan di rumah – rumah penduduk sekitar, namun tidak semua penduduk di desa ini melakukan kegiatan produksi kerajinan rotan, semuanya hanya sekitar 7 keluarga saja. Kerajinan ini merupakan hand made dari penduduk sekitar.
              Ciri khas dari kerajinan rotan yang dihasilkan oleh penduduk di desa Sungai Tutung ini adalah bahan baku rotan yang digunakan yaitu memiliki sabut yang lembut dan putih sehinmgga lebih mudah dalam memberikan bentuk pada rotan yang akan digunakan. Proses pembuatan kerajinan rotan ini tidak terlalu sulit bagi para pengrajin. Proses pembuatannya hanya membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit saja untuk menghasilkan 1 buah keranjang rotan. Setelah selesai dibuat kemudian keranjang – keranjang rotan itu akan dikirim ke para penampung untuk dilanjutkan proses selanjutnya yaitu dipernis.
Pernis merupakan salah satu proses penghalusan dan pemberian warna berupa cat pada rotan. Setelah proses tersebut maka kerajinan rotan ini siap untuk dipasarkan dan dijual, biasanya pemasaran dari kerajinan ini adalah dikirim ke daerah Padang dan sekitarnya.
               Mengingat kerajinan tangan yang terbuat dari rotan ini merupakan unggulan Kerinci, maka sangat wajar bahwa pada saat ini mayoritas mereka khususnya pengrajin merasa kecewa. Karena, sejak hutan yang ada di Kerinci secara keseluruhan dilindungi dan dijaga ketat oleh Polisi Kehutanan Republik Indonesia dari Balai TNKS berkenaan dengan perlindungan hutan, maka para pengrajin tidak lagi dapat dengan mudah mengambil rotan yang mana, rotan tersebut merupakan bahan baku dasar pembuatan kerajinan – kerajinan tangan.

Tari Rangguk


TARI RANGGUK

            Tari Rangguk merupakan tarian tradisional Kabupaten Kerinci. Tarian ini merupakan tarian spesifik Kerinci yang populer dan ditarikan oleh beberapa orang gadis remaja dengan memukul rebana kecil. Tarian ini diringi dengan nyanyian sanbil menganggukkan kepala untuk memberi hormat. Tari rangguk dilakukan pada hari-hari tertentu, seperti pada waktu menanti kedatangan para Depati, tamu-tamu, dan pembesar dari luar daerah. Kadang-kadang tarian rangguk ini dilakukan di lapangan terbuka, diikuti dengan menabuh rebana dan gong besar.

            Menurut sejarahnya, masyarakat Kerinci telah mengenal Tari Rangguk sejak dulu. Di Jambi, tarian ini diyakini muncul atas ide dari seorang ulama dari Dusun Cupak, Kabupaten Kerinci. Konon, sekitar abad ke-19, ulama itu menunaikan ibadah haji. Ketika berada di tanah suci Mekkah, ulama itu menyempatkan untuk belajar ilmu agama dan kesenian tradisional dari Arab yakni menabuh rebana sambil menganggukkan kepala.

Setelah kembali ke kampung halamannya, ulama itu berdakwah menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat Kerinci. Untuk menarik perhatian masyarakat, beliau berdakwah sambil memainkan alat musik rebana yang diikuti dengan gerakan menganggukkan kepala dan melantunkan pantun dan pujian kepada Allah.


Usaha itu menuai hasil, masyarakat Kerinci lambat laun mulai tertarik untuk belajar agama Islam. Mereka juga belajar memainkan rebana dan melantunkan pujian kepada Allah sambil menganggukkan kepala. Tak lama kemudian, ulama itu meninggal dunia. Meskipun ulama itu telah tiada, masyarakat Kerinci tetap menyebarkan ajaran agama Islam dan berdakwah hingga ke seluruh daerah di Kabupaten Kerinci. Dalam perkembangannya, gerakan anggukan kepala yang dimainkan mengikuti lantunan musik rebana ini kemudian dikenal dengan nama Tari Rangguk.

Kebudayaan dan Kesenian Kerinci dan Sungai Penuh


Kenduri Sko

Kenduri dapat diartikan sebagai perhelatan, sedangkan Sko berarti perbuatan atau peraturan yang berlaku turun temurun. Kenduri Sko yang merupakan upacara puncak kebudayan masyarakat Kerinci umumnya diartikan sebagai suatu perhelatan tradisional masyarakat Kerinci dengan maksud dan tujuan tertentu. Kenduri Sko terbesar dan biasanya dilakukan saat penobatan Depati dan Permenti yaitu kaum adat yang terpilih menjadi pemuka masyarakat yang akan mengatur anak Negeri, terutama anak kemenakan dari kaum adat itu sendiri.

Saat acara Kenduri Sko juga merupakan saat yang tepat untuk melihat benda-benda pusaka milik desa tersebut. Benda-benda pusaka ini kemudian akan dibersihkan dengan ramuan bermacam-macam limau, upacara ini dikenal “mandai atau malimo puseko”. Kenduri Sko ini hanya dilakukan pada desa Persekutuan Adat atau Masyarakat Adat dari dusun asal. Biasanya desa-desa yang melaksanakan Kenduri Sko adalah desa yang memiliki: sejarah, tetua adat Depati Ninik Mamak, larik jajar (rumah dusun), dan benda-benda pusaka peninggalan nenek moyang yang masih disimpan dengan baik.

Kenduri Sko yang hanya terdapat di Kerinci cukup diminati oleh wisatawan mancanegara, karena bila ditinjau dari sudut antropologi kebudayaan, Kenduri Sko ini memiliki makna siklus kehidupan yang bersifat universal. Kenduri Sko dapat dijumpai pada beberapa desa di Kecamatan Danau Kerinci dan Kecamatan Keliling Danau serta pada desa-desa di kecamatan lainnya.

Kebudayaan dan Kesenian Kerinci dan Sungai Penuh


UPACARA ASYEIK

            Upacara asyeik adalah upacara ritual. Penyelenggaraannya harus dilaksanakan khusus sesuai dengan arti dari nama upacara itu, “asyeik/khusuk”. Tarian ini merupakan upacara persembahan untuk roh nenek moyang dengan menyediakan sesajian. Sesajian tersebut berupa makanan dari nasi putih, nasi kuning, nasi hitam, telur ayam, telur bebek, lemang,lepat, ayam panggang, air jeruk, keris, dan lain-lain. Disamping itu, masih ditambah dengan bermacam-macam bunga dan dilengkapi dengan daun sirih. Upacara ini biasanya dilakukan jika ditimpa musibah atau mendapat rahmat.


            Tari ini dipercaya telah dimulai selama periode prasejarah yang dipengaruhi oleh animisme dan dinamisme. Asyeik diartikan sebagai asyik, yang juga berarti khusyu, sehingga yang melaksanakannya benar-benar dengan kosentrasi dan penghayatan yang sempurna. Tari Asyeik ini membawa pelaku mengikuti kekhusyukan upacara ini. Pelaku tanpa sadar dapat berjalan di atas benda tajam dan bara api.     (http://uhangkayo.webs.com/in/keseniankerinci.htm)