Sabtu, 28 Januari 2012

tari iyo-iyo


TARI IYO-IYO

            Tarian ini dilakukan ketika kenduri pusaka/waktu selesai panen dan bersifat sakral, tepatnya dilakukan setelah pengangkatan gelar adat kepada anak jantan (pria). Tarian ini merupakan tarian massal yang dilaksanakan pada saat Kenduri Sko (Pusaka) pengangkatan/ pemberian gelar adat (Rio, Depati, Mangku, Datuk, dst) kepada anak laki-laki yang dipilih oleh anak Batino dari suatu suku. Tarian ini dilakukan oleh anak batino (perempuan), diselingi dengan pencak silat dan menggunakan pedang oleh anak jantan. Tarian ini bertujuan untuk mengungkapkan rasa kegembiraan dan rasa bangga atas pengangkatan pemimpin adat. Puncak dari acara ini adalah saat dibacakan tambo (silsilah keturunan) secara berirama.
situs gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh5UdHigGLcCnbh2fjCb23rDW3HvSCjBgHCWSMeU0FD0SPmdLFwoD3gzQNbIHWDRQwNiD3DeXu39nWLTHu-Qxl5Nm_Oh3-McKC7tnOgMgggTBIXjN4rIQKawPFpYC_iuwVhcQkAyZGno4o/s400/yo.jpeg

Tari Ntak Kudo

Tari Ntak Kudo

Tarian ini berasal dari Hamparan Besar Tanah Rawang yang pada zaman dahulu hanya ditampilkan pada acara-acara kebesaran tertentu saja dan berbau mistis. Gerak langkahnya didasari dengan gerak langkah sifat yang diiringi oleh musik perkusi (gendang), botol, serta benda lainnya yang dipukul yang menghasilkan bunyi yang bertalu-talu dengan alunan musik yang berirama gembira, bertujuan untuk menghidupkan gerakan tari yang sedang dilakukan sehingga lebih asyik.
Daya tarik ini mampu memikat penonton untuk ikut serta menari dan berdendang. Tari ini digelar hampir di setiap perayaan yang ada di Kota Sungai Penuh.Ntak Kudo mulai berkembang diperkirakan pada tahun 1970, sebelumnya tari Ntak Kudo ditarikan oleh anak-anak yang belajar sifat tradisional di hamparan rawang bagian tengah dengan nama Tari Sbuk Tanguo (sapu tangan) dengan gerakan khusus pencak silat.
situs gambar : http://www.qcritkarpol.com/wp-content/uploads/2011/09/Tari-Rantak-Kudo.jpg

Tari Taouh


TARI TAOUH


            Tari ini merupakan tarian khas Lekuk 50 Tumbi Lempur, diselenggarakan apabila ada perayaan-perayaan, kenduri sko, dan penyambutan tamu. Tari ini dibawakan laki-laki dan perempuan (berpasang-pasangan), biasanya dilakukan sambil berdiri. Alat musik yang mengiringi adalah redab, gong, dan nyanyian klasik yang disebut mantau. Mantau mengisahkan kehidupan masyarakat desa, percintaan, adat istiadat, dan lain-lain. Para penari memakai pakaian adat Lempur berwarna hitam atau coklat dan tutup kepala yang diberi hiasan perak. Biasanya tarian ini dilakukan di lapangan terbuka maupun dalam ruangan. Pelaksanaannya ditentukan berdasarkan waktu, kecuali saat puncak kenduri adat, dilakukan selama satu malam satu hari.
 
 
 

Zike


ZIKE


            Zike berasal dari kata zikir, yaitu nyanyian yang dilakukan waktu mengadakan gotong rayong, misalnya pada saat gotong royong membersihkan bandar sawah, membangun mesjid, dan lain sebagainya. Zike diadakan untuk memberi semangat bagi orang yang sedang bekerja agar tidak cepat lelah.
            Kesenian ini perpaduan tiga buah seni yai seni vokal, seni gerak (tari) dan seni musik. Seni vokal (nyanyian), yang dinyanyikan merupak puji-pujian terhadap Yang Khalik Pencipta Ala Semesta (Allah SWT) dan rasul-rasulnya.

Kerajinan Tangan Kerinci

Kerajinan Tangan

              Berdasarkan hasil wawancara mengenai kerajinan tangan setempat, didapatkan hasil bahwa salah satu jenis souvenir yang dihasilkan oleh Kota Sungai Penuh, Kerinci adalah kerajinan rotan, dimana pusat tempat pembuatan kerajinan rotan ini berlokasi di Desa Sungai Tutung, Desa Air Hangat Kerinci.
              Lokasi pembuatannya tidak memiliki pabrik sendiri melainkan proses pembuatannya dilakukan di rumah – rumah penduduk sekitar, namun tidak semua penduduk di desa ini melakukan kegiatan produksi kerajinan rotan, semuanya hanya sekitar 7 keluarga saja. Kerajinan ini merupakan hand made dari penduduk sekitar.
              Ciri khas dari kerajinan rotan yang dihasilkan oleh penduduk di desa Sungai Tutung ini adalah bahan baku rotan yang digunakan yaitu memiliki sabut yang lembut dan putih sehinmgga lebih mudah dalam memberikan bentuk pada rotan yang akan digunakan. Proses pembuatan kerajinan rotan ini tidak terlalu sulit bagi para pengrajin. Proses pembuatannya hanya membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit saja untuk menghasilkan 1 buah keranjang rotan. Setelah selesai dibuat kemudian keranjang – keranjang rotan itu akan dikirim ke para penampung untuk dilanjutkan proses selanjutnya yaitu dipernis.
Pernis merupakan salah satu proses penghalusan dan pemberian warna berupa cat pada rotan. Setelah proses tersebut maka kerajinan rotan ini siap untuk dipasarkan dan dijual, biasanya pemasaran dari kerajinan ini adalah dikirim ke daerah Padang dan sekitarnya.
               Mengingat kerajinan tangan yang terbuat dari rotan ini merupakan unggulan Kerinci, maka sangat wajar bahwa pada saat ini mayoritas mereka khususnya pengrajin merasa kecewa. Karena, sejak hutan yang ada di Kerinci secara keseluruhan dilindungi dan dijaga ketat oleh Polisi Kehutanan Republik Indonesia dari Balai TNKS berkenaan dengan perlindungan hutan, maka para pengrajin tidak lagi dapat dengan mudah mengambil rotan yang mana, rotan tersebut merupakan bahan baku dasar pembuatan kerajinan – kerajinan tangan.

Tari Rangguk


TARI RANGGUK

            Tari Rangguk merupakan tarian tradisional Kabupaten Kerinci. Tarian ini merupakan tarian spesifik Kerinci yang populer dan ditarikan oleh beberapa orang gadis remaja dengan memukul rebana kecil. Tarian ini diringi dengan nyanyian sanbil menganggukkan kepala untuk memberi hormat. Tari rangguk dilakukan pada hari-hari tertentu, seperti pada waktu menanti kedatangan para Depati, tamu-tamu, dan pembesar dari luar daerah. Kadang-kadang tarian rangguk ini dilakukan di lapangan terbuka, diikuti dengan menabuh rebana dan gong besar.

            Menurut sejarahnya, masyarakat Kerinci telah mengenal Tari Rangguk sejak dulu. Di Jambi, tarian ini diyakini muncul atas ide dari seorang ulama dari Dusun Cupak, Kabupaten Kerinci. Konon, sekitar abad ke-19, ulama itu menunaikan ibadah haji. Ketika berada di tanah suci Mekkah, ulama itu menyempatkan untuk belajar ilmu agama dan kesenian tradisional dari Arab yakni menabuh rebana sambil menganggukkan kepala.

Setelah kembali ke kampung halamannya, ulama itu berdakwah menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat Kerinci. Untuk menarik perhatian masyarakat, beliau berdakwah sambil memainkan alat musik rebana yang diikuti dengan gerakan menganggukkan kepala dan melantunkan pantun dan pujian kepada Allah.


Usaha itu menuai hasil, masyarakat Kerinci lambat laun mulai tertarik untuk belajar agama Islam. Mereka juga belajar memainkan rebana dan melantunkan pujian kepada Allah sambil menganggukkan kepala. Tak lama kemudian, ulama itu meninggal dunia. Meskipun ulama itu telah tiada, masyarakat Kerinci tetap menyebarkan ajaran agama Islam dan berdakwah hingga ke seluruh daerah di Kabupaten Kerinci. Dalam perkembangannya, gerakan anggukan kepala yang dimainkan mengikuti lantunan musik rebana ini kemudian dikenal dengan nama Tari Rangguk.

Kebudayaan dan Kesenian Kerinci dan Sungai Penuh


Kenduri Sko

Kenduri dapat diartikan sebagai perhelatan, sedangkan Sko berarti perbuatan atau peraturan yang berlaku turun temurun. Kenduri Sko yang merupakan upacara puncak kebudayan masyarakat Kerinci umumnya diartikan sebagai suatu perhelatan tradisional masyarakat Kerinci dengan maksud dan tujuan tertentu. Kenduri Sko terbesar dan biasanya dilakukan saat penobatan Depati dan Permenti yaitu kaum adat yang terpilih menjadi pemuka masyarakat yang akan mengatur anak Negeri, terutama anak kemenakan dari kaum adat itu sendiri.

Saat acara Kenduri Sko juga merupakan saat yang tepat untuk melihat benda-benda pusaka milik desa tersebut. Benda-benda pusaka ini kemudian akan dibersihkan dengan ramuan bermacam-macam limau, upacara ini dikenal “mandai atau malimo puseko”. Kenduri Sko ini hanya dilakukan pada desa Persekutuan Adat atau Masyarakat Adat dari dusun asal. Biasanya desa-desa yang melaksanakan Kenduri Sko adalah desa yang memiliki: sejarah, tetua adat Depati Ninik Mamak, larik jajar (rumah dusun), dan benda-benda pusaka peninggalan nenek moyang yang masih disimpan dengan baik.

Kenduri Sko yang hanya terdapat di Kerinci cukup diminati oleh wisatawan mancanegara, karena bila ditinjau dari sudut antropologi kebudayaan, Kenduri Sko ini memiliki makna siklus kehidupan yang bersifat universal. Kenduri Sko dapat dijumpai pada beberapa desa di Kecamatan Danau Kerinci dan Kecamatan Keliling Danau serta pada desa-desa di kecamatan lainnya.